Dilan 1991, Kontroversi di Tengah Lahirnya Rekor Baru

Yohanes Adi Pamungkas | 16 Maret 2019 | 17:00 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Sejumlah film impor terpaksa turun layar demi memuluskan jalan Sang Panglima Tempur. Di Makassar, sejumlah mahasiswa mendemo pemutaran Dilan 1991 karena dinilai mengampanyekan tawuran antargeng motor. 

Bersamaan dengan meledaknya Dilan 1991, Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan Nasional di Makassar berunjuk rasa di depan bioskop Panakkukang XXI dan berakhir ricuh.

Mereka menilai, Dilan 1991 berpotensi merusak mental generasi muda karena mengandung unsur seks, kekerasan, dan adegan ciuman. Fajar Bustomi punya jawaban sendiri.

“Setahu saya, sebulan sebelum Dilan 1991 tayang ada pihak yang keberatan dengan adegan pertengkaran antargeng motor. Konten itu dipermasalahkan para pendemo. Saya ingin meluruskan, pihak bioskop tidak keberatan dengan konten film selama sudah mendapat surat tanda lulus sensor (STLS). Dilan 1991 sudah lulus sensor, dapat STLS dengan keterangan 13 tahun ke atas. LSF menerbitkan STLS setelah mencermati kontennya. Tidak ada adegan yang digunting, lo,” beber Fajar yang kami hubungi via telepon, Senin (4/3).

Bersama produser Max Pictures, Ody Mulya Hidayat, Fajar menjaga konten Dilan 1991. Bahkan, adegan ciuman pertama Dilan-Milea pun batal ditayangkan. Adegan itu sebenarnya sudah dieksekusi. Saat syuting, hanya ada Iqbaal, Vanesha, Fajar, dan sinematografer di lokasi. Tim di balik layar pun tidak diizinkan berada di lokasi.

“Seketat itu kami menjaga konten. Tidak masalah mereka demo. Orang menyampaikan pendapat, mah wajar. Asal tertib. Mereka mengkritik Dilan 1991 mengajarkan tawuran tapi mereka sendiri demo sampai ricuh. Bagaimana, sih?” Fajar membeberkan. 

Ody menambahkan, sebelum demo terjadi, Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan Nasional telah menyuratinya. Menindaklanjuti surat itu, produser Tali Pocong Perawan terbang ke Makassar pada 26 Februari lalu.

“Di sana, saya mengklarifikasi surat yang diberikan oleh aliansi itu. Mereka keberatan karena Dilan 1991 mengandung unsur seks, kekerasan, dan adegan ciuman. Saya tegaskan tiga unsur itu tidak ada dalam film. Mereka itu oknum bayaran,” urai Ody.

(wyn / han)
 

Penulis : Yohanes Adi Pamungkas
Editor : Yohanes Adi Pamungkas