Garin Nugroho Tanggapi Petisi Penolakan Kucumbu Tubuh Indahku

TEMPO | 25 April 2019 | 23:30 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Film Kucumbu Tubuh Indahku yang telah mengikuti puluhan festival film internasional dituduh sebagai tayangan LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender).

Sang sutradara, Garin Nugroho, angkat bicara prihal petisi penolakan atas karyanya yang ditayangkan di layar lebar.

"Bagi saya, anarkisme massa tanpa dialog ini akan mematikan daya pikir terbuka, serta kualitas warga bangsa," kata dia dalam keterangan tertulisnya, yang disampaikan oleh Four Colours Film, Kamis, 25 April 2019.

Menurut Garin, petisi tersebut merupakan penghakiman massal atas karya seni lewat media sosial, tanpa memberikan ruang untuk berdialog. Hal tersebut, begitu disayangkan olehnya.

Ia pun turut prihatin atas penghakiman lewat media sosial, yang dianggapnya tidak adil. "Bagi saya kehendak atas keadilan dan kehendak untuk hidup bersama dalam keberagaman tanpa diskriminasi dan kekerasan, tidak akan pernah mati dan dibungkam oleh apapun," tutur dia.

Petisi yang dibuat tiga hari yang lalu di Change.org ini, kata Garin, tidak memberikan kesempatan untuk berdialog atas karya seni buatannya. Dia menuturkan petisi itu merupakan menghakiman massal tanpa proses keadilan yang melahirkan anarkisme massal.

Film Kucumbu Tubuh Indahku, baru saja tayang di bioskop pada 18 April 2019 lalu. Film tersebut, terinspirasi dari kisah seorang penari lengger asal Banyumas, Rianto.

Belum satu pekan tayang di layar lebar, petisi dan ajakan untuk menolak film tersebut beredar di media sosial. Di situs Change.org, Rakhmi Marshita mengajak masyarat untuk mendukungnya menolak film yang ia anggap tidak sesuai dengan norma masyarakat.

"Sebuah film selain dibuat untuk menceritakan true story, seharusnya sebuah film bisa membawa efek positif bagi penontonnya, seperti menjadi inspirasi positif, kreatif, dan menambah wawasan yang bernilai positif juga. Jika film seperti ini diijinkan tayang dan disebarluaskan, kita mesti khawatir, bahwa generasi muda yang mengalami kesulitan menemukan jati diri akan mencontoh perilaku dalam film ini," tulis Rakhmi dalam petisinya.

Hingga saat ini, 3.165 orang di media sosial turut menolak tayangan tersebut. Rata-rata orang yang berkomentar di media sosial, belum menonton film tersebut. Mereka menuduh berdasarkan judul dan poster Arjuno memulas make-up, yang dianggap sebagai ajakan LGBT.

TEMPO.CO

Penulis : TEMPO
Editor : TEMPO