Menyusuri Kekayaan Budaya dan Sejarah Nusantara Lewat Jalur Rempah

Ari Kurniawan | 18 Juli 2019 | 02:00 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Ternate dan Tidore, dua pulau kecil yang berdampingan di Laut Maluku, tidak hanya menjanjikan keindahan alam. Tapi juga kekayaan sejarah dan tradisi budaya.

Banyak kisah lampau yang sangat memikat. Salah satunya terkait keberadaan jalur rempah. Perlu diketahui, jauh sebelum bangsa Eropa melakukan akivitas perdagangan di Asia Tenggara, Nusantara telah jadi pemain penting di dunia lewat rempah-rempahnya.

Pada abad ke-15, bangsa Portugis menemukan rute ke Maluku. Ternate dan Tidore menarik perhatian mereka karena keberadaan cengkeh. Cengkeh juga yang kemudian mengundang minat bangsa Eropa lainnya, seperti Spanyol dan Belanda, untuk datang dan saling bersaing untuk menguasai wilayah di jalur rempah.

Salah satu gubernur jenderal Belanda pernah membakar lahan perkebunan cengkeh di sana secara besar-besaran pada akhir abad ke-16. Itu dilakukan karena cengkeh sedang diperebutkan oleh Spanyol dan Portugis. Peristiwa tersebut akhirnya menyulut perlawanan dari Kesultanan Ternate dan Tidore terhadap Belanda.

Jejak sejarah tersebut tentu amat sayang jika harus tenggelam oleh zaman. Ini yang mendasari Yayasan Negeri Rempah untuk membuka wawasan masyarakat melalui perjalanan wisata yang menyenangkan sekaligus mencerahkan. 

Rabu (17/7), Yayasan Negeri Rempah mengajak sejumlah wartawan untuk menelusuri lokasi-lokasi bersejarah di mana Jalur Rempah bermula. Dimulai dari pohon Cengkeh Afo, yang diyakini sebagai cengkeh tertua di dunia. Usianya diperkirakan mencapai ratusan tahun. Di sekitar Cengkeh Afo, tersebar tanaman pala, yang juga komoditas andalan Ternate dan Tidore. 

Sejarah mencatat, cengkeh merupakan alasan mengapa begitu banyak bangunan benteng di sekitar Ternate dan Tidore. Benteng-benteng tersebut dibangun oleh Spanyol dan Portugis tidak lain adalah untuk melindugi cengkeh, yang kala itu dianggap sebagai harta karun. Benteng yang tersebar di wilayah Ternate dan Tidore di antaranya Benteng Tuloko, Benteng Kastela, Benteng Tore, dan Benteng Tahula. 

Sambil menengok sejarah, peserta juga dimanjakan oleh ragam kuliner lokal. Setelah menyantap nasi kuning di pagi hari, papeda jadi pilihan yang paling tepat untuk santap siang. Papeda, yang merupakan makanan khas masyarakat Indonesia Timur, bisa dinikmati dengan gohu ikan, sajian ikan tuna mentah dengan saus yang khas. 

Petualangan sehari penuh diakhiri di kedai Ikan Bakar Terminal. Di sana pengunjung bisa memilih ikan-ikan segar untuk disantap. Tak hanya memanjakan perut, atraksi sang penjual saat memotong ikan juga membawa kesan tersendiri. 

Hassan Wirajuda, Ketua Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah, mengatakan, "Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan Yayasan Negeri Rempah dalam upaya menggali khasanah budaya dan sejarah bangsa masa lalu kita."

Dikatakan Hassan Wirajuda lebih lanjut, Indonesia merupakan pusat penghasil rempah yang telah diakui dunia. Perdagangan rempah kemudian turut mempengaruhi pertukaran budaya dari berbagai bangsa.

"Perdagangan itu menghadiakan kontak antar orang dan bangsa yang berbeda. Dari sana ada pertukaran budaya, filsafat, dan teknologi," sebut mantan Menteri Luar Negeri RI itu. 

Hassan berharap upaya memperkenalkan sejarah terus ditingkatkan. Terutama kepada generasi milenial. Dalam hal ini peran pemerintah tentunya juga sangat dinantikan. 

"Kesadaran akan masa lalu kita sangat penting. Seperti Bung Karno pernah bilang, 'hanya bangsa besar yang bisa menghargai sejarahnya'. Kami mengingatkan para pengambil kebijakan, baik di pusat dan daerah, akan pentingnya pembelajaran untuk generasi muda tentang sejarah," tandasnya. 

(ari)

Penulis : Ari Kurniawan
Editor : Ari Kurniawan