[RESENSI FILM] Dilan 1991: Lebih Realistis Meski Rayuannya Kurang Efektif

Wayan Diananto | 6 Maret 2019 | 18:50 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Dalam Dilan 1991, Dilan (Iqbaal) dan Milea (Vanesha) resmi berpacaran pada 22 Desember 1990. Ada banyak masalah yang mendera keduanya. Dilan dikeluarkan dari sekolah gara-gara berkelahi dengan Anhar (Giulio).

Milea kemudian melarang Dilan bergaul dengan geng motor karena hari-harinya tak pernah jauh dari aktivitas saling serang dan balas dendam. Pernah, gara-gara menyerang geng motor lain, Dilan ditahan. 

Ayah Dilan, Faisal (Bucek), membiarkan Dilan mendekam di penjara. Rentetan peristiwa ini membuat Milea mengkhawatirkan keselamatan dan masa depan Dilan. Kondisi merumit, ketika suatu hari kerabat Milea dari Belgia, Tante Anis (Maudy Koesnaedi), pulang ke Indonesia bersama anaknya, Yugo (Jerome). Diam-diam, Yugo menyukai Milea.

Jilid kedua ini sejujurnya terasa melelahkan pada 30 menit pertama. Aktivitas sehari-hari seperti sarapan roti, pamit berangkat ke sekolah, saling rayu di atas motor terus berulang hingga membuat ceritanya tidak bergerak ke mana-mana. Bisa dipangkas atau dipersingkat, mengingat penonton sudah tahu seberapa romantis Dilan-Milea di jilid sebelumnya. Masalah yang sebenarnya baru tampak setelah 30 menit pertama berlalu. Kita melihat sosok Dilan dan Milea lebih detail.

Dilan, yang dalam jilid pertama digambarkan serbaromantis, kali ini tampak manusiawi. Ia bisa cuek dengan pacar saat marah namun tetap respek pada permintaan ibunya (Ira Wibowo). Dilan bahkan menunjukkan egonya pada Milea di pengujung kisah. Di sisi lain, Vanesha memamerkan emosi beragam dari manja, merengek, sesekali terlihat labil, menangis karena takut kehilangan hingga menangis tanpa air mata.

Dalam Dilan 1991, Vanesha membawa Milea lebih jauh lagi. Ia berani mengatur, melarang, mengancam tapi dalam hati takut kehilangan, dan move on meski tidak sepenuhnya. Esensi cinta Milea adalah ketakutan akan kehilangan dan pemikiran yang terlalu jauh tentang masa depan. Itu tampak saat salah satu sahabatnya meninggal dan ia tak mau Dilan mengalami nasib serupa. 

Ibarat buku, film Dilan 1990 kata pengantar yang memabukkan. Sementara Dilan 1991 memuat masalah yang sebenarnya: cinta pertama yang seumur jagung namun terasa seperti cinta sejati. Dari segi bobot cerita, Dilan 1991 lebih unggul. Sayang, rayuan dan keromantisan Dilan di jilid ini terasa agak kabur. Kurang nyambung dengan dialog yang diucapkan sebelumnya.

Pemain    : Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla, Jerome Kurnia, Giulio Parengkuan
Produser    : Ody Mulya Hidayat
Sutradara    : Fajar Bustomi, Pidi Baiq
Penulis        : Titien Wattimena, Pidi Baiq
Produksi    : Max Pictures
Durasi        : 2 jam, 1 menit

(wyn / gur)

Penulis : Wayan Diananto
Editor : Wayan Diananto