Ayo Ayah, Bantu Ibu Merangsang Panca Indera Si Kecil!

Wayan Diananto | 10 Mei 2015 | 00:38 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Dear ibu dan ayah, tubuh si kecil diciptakan Tuhan dengan beberapa gerbang untuk mengakses informasi. Tugas ibu dan ayah, memberi rangsangan di gerbang-gerbang itu sehingga ia kelak menjadi anak yang cerdas dan berwawasan luas. Memberi rangsangan itu yang sering dilupakan oleh orangtua. Padahal, caranya mudah lho! Untuk melakukannya pun tidak butuh waktu berjam-jam.

Memberi Rangsangan Saat Memandikan Si Kecil

Fakta ini terkuak dalam talk show kampanye Zwitsal “Suamiku, Ayah Luar Biasa” di Jakarta Pusat, belum lama ini. Kampanye ini bertujuan mengedukasi orang tua (termasuk ayah) untuk berperan aktif merawat si kecil sejak dini. Acara tersebut menghadirkan brand ambassador Dian Sastrowardoyo, Brand Manager Zwitsal Unilever Indonesia Rika Sandi, dan Praktisi Neurosains Terapan, Anne Gracia. Anne mengingatkan, ada banyak cara merawat si kecil. Salah satunya, memandikan. 

Memandikan si kecil kerap disebut “mandi ceria”. Karena di situlah orangtua bisa bermain air bersama buah hati, melihatnya tertawa seraya menggerakan tangan dan kaki. Mandi itu bukan sekadar membersihkan tubuh si kecil. Ketika mandi dan setelah mandi, ibu bisa memberi stimulus agar panca indera si kecil terangsang. Ibu dan ayah bisa memberi lima stimulus: visual, auditori (keseimbangan), taktil (sentuhan, raba, sensitivitas terhadap tekanan, suhu, tekanan, dan sensitivitas terhadap kendali gerak), penghidung, dan gustatori pengecap. Manfaatnya sangat banyak. 

“Memberi rangsangan pada telinga misalnya, manfaatnya tak hanya untuk indra pendengaran. Keseimbangan dan gerakan tubuh pun ikut terangsang. Anak yang tak kenal keseimbangan tidak akan bergerak leluasa. Ia mudah jatuh karena tak mampu mengendalikan aktivitas gerak dan karena merasa dirinya tidak seimbang. Nanti ia akan disebut hiperaktif. Padahal, belum tentu hiperaktif,” terang Anne dalam wawancara empat mata bersama Bintang.

Orangtua bisa memberi stimulus pada panca indra melalui pemijatan lembut. Anne mengatakan,  stimulus pada indra taktil merangsang aktivitas saraf di persendian. Nantinya buah hati akan mengenali besarnya tenaga untuk memegang, menyentuh, dan menggerakan sehingga ia cenderung tidak menjadi nakal. Terampil dalam bergaul maupun bersosialisasi.

“Sementara rangsangan pada penghidung berhubungan dengan sensitivitas anak saat mengenali dunianya. Begini, area otak yang berhubungan dengan penghidung atau pembau itu berdekatan dengan pengendalian emosi. Mereka yang memiliki sensitivitas mengenali berbagai aroma sebetulnya memiliki pengendalian emosi yang lebih baik,” beri tahu Anne. 

Berikutnya, pengecapan. Organ utamanya, lidah. Lidah dikendalikan tiga pusat saraf yakni yang berhubungan dengan otot pengunyahan, otot penelanan, dan wajah. Rangsangan di indra pengecapkan menyiapkan anak pada tahap selanjutnya. Jika waktunya tiba, ia bisa mengucapkan kata. Kemampuan komunikasi itu mesti didukung organ artikulasi yang berfungsi dengan benar dan menghasilkan bunyi. Di sisi lain, otak si kecil memiliki ide berkomunikasi. 

Lima Bagian Tubuh Yang Bisa Diberi Stimulus

“Ini yang sering tidak diketahui ayah dan ibu. Panca indra penting untuk dirangsang sejak dini. Jangan sampai ada indra yang terlalu dominan. Misalnya, anak dengan visual fotografik lebih dominan, cenderung autis. Karena, ia hanya menghafalkan apa yang dilihat. Lalu, kurang fokus dengan hal lain,” Anne menambahkan. Bu, jangan dikira aktivitas memberi stimulus untuk buah hati itu rumit dan butuh waktu berjam-jam, lo! Anda bisa melakukannya dari hal-hal sepele. Mandi, misalnya. 

Jadikan mandi momen ceria. Anda bisa menyebutnya “mandi ceria”. Saat mandi, jangan hanya  membersihkan tubuh si kecil, Bu. Berikan juga pijatan lembut. Itu salah satu cara sederhana memberi rangsangan untuk panca indera anak. Untuk Anda, Anne meberikan beberapa langkah mudah:

1. Dahi

Caranya: Tangan ibu memijat dahi bayi tapi tepalak tangan melayang di muka bayi. Akibatnya, bayi seperti diajak bermain “Cilukba!”. Sesekali melihat wajah ibunya. Sesekali tidak. Secara psikologis, bayi senang karena seperti diajak bermain. Di sisi lain, bayi belajar membedakan gelap dan terang. “Ketika dilahirkan, ia belum bisa melihat dengan jelas suatu objek tapi bisa membedakan terang dan gelap dari 'permainan' buka tutup telapak tangan ibu,” terang Anne.

Manfaatnya: Pijatan lembut pada dahi membantu bayi mendapat stimulus kehangatan yang meningkatkan peredaran darah di sekitar dahi dan mata. 

2. Di sudut bibir sampai ke depan telinga

Caranya: Berikan pijatan lembut dengan gerakan melingkar dari sudut bibir ke telinga bagian depan cuping. Jari telunjuk ibu kemudian ditarik kembali ke arah sudut bibir sementara jari tengah ibu di bawah rahangnya. 

Manfaatnya: Merangsang otot-otot si kecil mengenali gerakan pengunyahan dan pengisapan. Nantinya, merangsang bibir dan tulang rahang bawah untuk mengeluarkan bunyi dan berbicara.

3. Di tengkuk

Caranya: Memberi tekanan lembut secara konsisten dalam bentuk putaran. Bisa ke kiri atau ke kanan, 3-5 kali. Akhiri dengan tekanan, baru kemudian jari ibu dilepaskan dari tubuh si kecil. 

Manfaatnya: Membantu buah hati Anda mengenali sendi putar di tengkuk dan merangsangnya untuk mengangkat kepala ketika ia sedang tengkurap. “Ini penting untuk pengendalian kepala terhadap tubuh sampai ke masa belajar nanti,” Anne mengingatkan.

4. Di tangan dan kaki (termasuk selangkangan, pergelangan, sampai telapak) 

Caranya: Dimulai dengan meremas lembut dari bahu ke lengan atas, kemudian lakukan pijatan lembut dengan gerakan memutar sampai ke lengan bawah, pergelangan, dan diakhiri dengan memijat telapak tangan. Untuk kaki, letakkan ibu jari di pangkal pada dan beri tekanan lembut kemudian tarik ke bawah, lanjutkan dengan gerakan di pada. Pegang kedua kaki si kecil dengan satu tangan. Tangan ibu yang lain menepuk-nepuk tungkai. Akhiri dengan remasan lembut dari paha ke lutut. Beri tekanan lembut dengan gerakan jempol memutar ke dalam pada lutut.

Manfaatnya: Saat lahir, tangan dan kaki bayi cenderung mengatup. Itu harus dilatih dengan pemijatan lembut dengan tekanan pasti agar telapak itu belajar membuka dan mengatup sesuai kebutuhan. Pijatan lembut di telapak tangan merangsangnya untuk menggenggam dan melepas. Sementara pijatan lembut di kaki menyiapkan si kecil untuk melangkah.

5. Dada

Caranya: Ada satu titik di tulang dada, di bawah lekukan leher yang penting untuk dipijat dan diputar. Caranya, urut dada bayi dari bawah lekukan leher menuju ke atas membentuk huruf “i”. 

Manfaat: Ada kelenjar Thymus yang cukup besar dibalik tulang dada (sternum), yakni kelenjar getah bening yang memproduksi antibodi yang tepat, sesuai gangguan yang diterima tubuh si kecil. Untuk mengaktivasi kelenjar itu, perlu rangsangan. Anda bisa melakukannya pada pagi maupun malam sebelum ia terlelap.

5 Sampai 10 Menit Saja

“Anda bisa melakukan pemijatan 10 menit. Jika Ibu sudah terbiasa melakukannya, lima menit selesai. Kadang butuh waktu 10-15 menit karena ibu atau ayah mengajak si kecil bercanda, mengobrol. Lakukanlah secara rutin. Pengulangan pemijatan membuat anak nantinya ketika beranjak dewasa dan menghadapi masalah, akan mengingat sentuhan-sentuhan itu. Sentuhan yang berulang itu menajamkan memori dan afeksi si kecil terhadap orangtuanya,” Anne mengingatkan.

Pertanyaan yang kemudian muncul, mengapa Bapak mesti ikut memberi sentuhan dan pijatan? Begini, pijatan yang diberikan ibu dan ayah (meski sama-sama lembut), tetap saja memiliki kekuatan berbeda. Jika ayah bergantian dengan ibu memberikan pijatan lembut, maka si kecil akan mengenali dan membedakan besar tekanan yang diterimanya.

Disadari atau tidak, si kecil sebenarnya secara refleks merespon pijatan itu. Ototnya acap kali memberi reaksi balik. Saat dipijat lembut, si kecil belajar mengenali dan mengendalikan tenaga yang dimilikinya. Dalam kajian psikologi, manusia memiliki dua reaksi: fight (memberi reaksi balik) atau flight (membiarkannya). Ketika memijat si kecil, orangtua akan mendapat dua jenis reaksi itu. 

“Orang tua belajar memahami bahasa tubuh si kecil. Si kecil pun belajar beradaptasi terhadap dua jenis pijatan itu. Para ayah patut mengingat bahwa adaptasi salah satu bentuk kecerdasan. Pijatan dari ayah dan ibu menyiapkannya menjadi anak yang cerdas,” ulasnya. Hal lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan, kulit si bayi yang Anda pijat itu sensitif. Karenanya, kita butuh medium.

“Anda bisa menggunakan baby oil yang memberi sensasi licin untuk mengurangi risiko iritasi akibat gesekan terhadap kulit bayi yang masih fragile dan memberi kelembapan pada kulit bayi. Anda harus memilih produk yang tepat untuk menangani kulit bayi yang masih sensitif itu. Pilihlah produk yang membuat bayi riang, ibu pun senang,” Anne menambahkan.

Dalam kesempatan itu, Rika Sandi kemudian memperkenalkan varian terbaru Zwitsal Classic Baby Bath dan Zwitsal Classic Baby Shampoo. Keduanya hadir untuk mendukung peran ayah dalam merawat bayinya sejak dini. Kedua varian ini kini telah disempurnakan dengan formula terbaru ekstra lembut dengan pH balanced yang menjaga kelembaban alami kulit buah hati Anda.

Tidak perlu khawatir menggunakannya karena produk ini Hypoallergenic. Aman untuk kulit bayi yang baru lahir. Juga untuk kulit bayi yang sensitif. Zwitsal Classic Baby Bath dan Classic Baby Shampoo bagian dari rangkaian Zwitsal Classic Baby Bath. Keduanya bersama Zwitsal Classic Baby Powder dan Zwitsal Natural Baby Oil yang mengandung Aloe Vera dan vitamin E cocok menemani ritual perawatan bayi sehari-hari. 

“Kami ingin menjadi bagian dalam proses membangun momen ceria ayah, ibu, dan buah hati. Kini setiap Ayah di Indonesia dapat berperan aktif merawat buah hati mereka. Termasuk, memandikan bayi tanpa khawatir akan membuat bayinya menangis karena merasa tidak nyaman. Ayo ayah, jadilah luar biasa dengan membantu ibu memberi rangsangan kepada si kecil,” ajak Rika.

(wyn/gur)

Penulis : Wayan Diananto
Editor : Wayan Diananto