Usai Umumkan Musik Diharamkan, Taliban Bunuh Musisi Tradisional Afghanistan

Supriyanto | 31 Agustus 2021 | 04:00 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Mantan Menteri Dalam Negeri Afghanistan, Fawad Andarabi, menyebut Taliban telah membunuh seorang musisi aliran folk, Fawad Andarabi, pada Sabtu (28/8). Pembunuhan tersebut terjadi di desa Andarab, belum lama setelah Taliban melarang musik di Afghanistan karena haram hukumnya.

Kabar soal pembunuhan musisi fol itu dibagikan Fawad Andarabi melalui media sosial, Twitter. Di akun miliknya, Fawad berkicau bahwa kebrutalan Taliban merenggut nyawa seorang seniman berharga.

"Kebrutalan Taliban berlanjut di Andarab. Hari ini mereka secara brutal membunuh penyanyi folkloric, Fawad Andarabi yang hanya membawa kegembiraan bagi lembah ini dan penduduknya. Saat dia bernyanyi di sini 'lembah kita yang indah….tanah nenek moyang kita…' tidak akan tunduk pada kebrutalan Taliban," tulis mantan menteri tersebut di akun Twitter-nya, @andarabi, Minggu (29/8).

Sebelumnya, dikutip dari New York Times, Zabihullah Mujahid juru bicara Taliban  mengatakan musik dilarang dimainkan di Afghanistan. Alasannya, kata musik sesuatu yang dilarang dalam Islam.

“Musik dilarang dalam Islam, tetapi kami berharap kami dapat membujuk orang untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu, daripada menekan mereka,” kata Zabihullah Mujahid.

Mujahid, dalam konferensi pers Selasa lalu, mengatakan kepada para perempuan dan anak-anak untuk tinggal di rumah. Menurutnya, pasukan Taliban tidak dilatih untuk memastikan keselamatan mereka.

Arahan tersebut melemahkan upaya kelompok tersebut untuk menghadirkan front yang lebih toleran, membawa kembali ingatan tentang aturan pertama mereka di mana perempuan dilarang pergi bekerja dan meninggalkan rumah.

Desa Andarab berada di dekat Lembah Panjshir. Kawasan lembah itu menampung pasukan perlawanan yang menolak kekuasaan Taliban.

Dikabarkan beberapa waktu lalu, salah satu diva pop Afghanistan, Aryana Sayeed berhasil kabur dari negara kelahirannya pada 21 Agustus 2021. Aryana Sayeed kabur ke Istanbul, Turki dengan menumpang peswat kargo milik Amerika Serikat.

 

Penulis : Supriyanto
Editor : Supriyanto