[RESENSI] The Nutcracker and the Four Realms, Paruh Pertama Bikin Ngantuk

Wayan Diananto | 17 November 2018 | 18:00 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Malang betul nasib The Nutcracker and the Four Realms. Diproyeksikan sebagai film Natal dan Tahun Baru, film ini kalah pamor dari Bohemian Rhapsody. Ia gagal memuncaki tangga box office Amerika dan dihujani kritik negatif para pengamat film. Seburuk itukah karya sineas Lasse Hallstrom dan Joe Johnston?

Kesan pertama menonton The Nutcracker and the Four Realms, alur pada paruh pertama terasa lambat dan datar. Kisahnya dimulai ketika Stahlbaum (Matthew Macfadyen) memberi hadiah untuk anaknya: Clara (Mackenzie), Fritz (Tom Sweet), dan Louise (Ellie Bamber). Fritz menerima mainan karakter tentara, Louise mendapat gaun, sementara Clara hanya kotak musik yang terkunci. Clara kemudian berupaya mencari kunci untuk membukanya. 

Kotak musik itu ternyata menghubungkan Clara ke sebuah kerajaan yang dipekuat 4 bupati yakni Bupati Alam Taman Hiburan, Mother Ginger (Hellen), Bupati Alam Manisan, Sugar Plum (Keira), Bupati Alam Salju, Shiver (Richard), dan Bupati Alam Bunga, Hawthorne (Eugenio). Ibu Clara yang kini menghilang adalah ratu di kerajaan itu. Dalam masa pergantian kekuasaan, Sugar Plum memberontak. 

Titik lemah film ini, konflik yang tidak runcing khususnya pada paruh pertama. Acara bagi hadiah dan drama kekecewaan Clara bertele-tele. Koneksi menuju kerajaan dan konspirasi politik pemberontakan tidak tergambar dengan meyakinkan. Karisma Clara sebagai calon ratu bukannya menajam malah rapuh dalam banyak fase. Bangunan konflik dan karakter yang ada di dongeng ini meninabobokan penonton.

Konflik baru terasa saat Sugar Plum menghidupkan sejumlah tentara mainan. Sayangnya, kami sudah lelah duluan.

Padahal, The Nutcracker dibekali elemen teknis yang canggih. Ribuan tikus yang menjelma menjadi makhluk rakasa, mainan tentara yang ujug-ujug bergerak lalu berkelahi, hingga jam yang memungkinkan kita melihat pergerakan di alam lain. Semua itu membuat batas khayalan dan kenyataan terasa tipis.

Riasan wajah para bupati berhasil membuat kita pangling. Pujian patut diberikan kepada Keira dan Hellen yang tampil total. Kami baru sadar Sugar Plum adalah Keira saat film hendak berakhir. Begitu pula Hellen.

The Nutcracker akhirnya hanya menjadi pameran efek visual, riasan, kostum, dan tata artistik minus cerita solid. Ia mendongeng dengan sangat melenakan. Cocok untuk anak-anak tapi orang tua akan berpikir dua kali untuk menonton.


Pemain    : Mackenzie Foy, Helen Mirren, Eugenio Derbez, Richard E. Grant, Keira Knightley
Produser    : Larry Franco, Mark Gordon
Sutradara    : Lasse Hallstrom, Joe Johnston
Penulis        : Ashleigh Powell
Produksi    : Walt Disney Pictures
Durasi        : 1 jam, 39 menit

(wyn / gur)
 

Penulis : Wayan Diananto
Editor : Wayan Diananto