RESENSI FILM Pet Sematary, Pilunya Makna Kematian

Panditio Rayendra | 4 April 2019 | 15:30 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - PET Sematary, sebuah film yang diangkat dari novel Stephen King, terbitan tahun 1983. Pet Sematary sebelumnya pernah diangkat ke layar lebar pada tahun 1989.

Pet Sematary versi 1989, membekas di benak saya. Ketika itu, saya ingat menyaksikannya di sebuah stasiun TV swasta pada 1995. Adegan anak kecil tertabrak truk besar, cukup mengganggu saya yang ketika itu baru berusia 8 tahun. Untuk pertama kali, saya merasa betapa menyedihkan yang namanya kematian.

Pet Sematary versi 2019, secara garis besar mengikuti alur pendahulunya. Louis Creed (Jason Clarke) yang berprofesi sebagai dokter, mengajak istri dan dua anaknya pindah dari kota besar ke pedalaman bernama Ludlow. Rachel (Amy Seimetz) sang istri, beserta dua anak mereka, Ellie (Jete Laurence) dan Gage (Hugo dan Lucas Lavoie), menerima dengan suka hati. Rumah mereka cukup nyaman, disertai dengan halaman luas yang masih berupa hutan.

Kejadian tak lazim dialami Louis setelah gagal menyelamatkan nyawa pasien yang ditabrak mobil. Belum reda rasa bingung Louis, ia merasa bingung ketika kucing kesayangan Ellie ditemukan mati. Louis tak mau putri kesayangannya bersedih. Jud (John Lithgow), tetangga mereka yang berusia lanjut, mengajak Louis menguburkan si kucing di tengah hutan. Tak disangka, kucing piaraan mereka kembali dalam keadaan hidup. Terungkap tanah di sana memiliki kekuatan misterius. Jud bercerita dulu ia pernah 'menghidupkan' kembali anjing kesayangannya. Masalah dimulai saat tragedi merenggut nyawa orang yang disayangi Louis.

Pet Sematary membahas fenomena kematian dengan mendalam. Rasa bersalah, sedih sekaligus takut yang dialami seseorang saat orang yang disayangi meninggal, digambarkan dengan emosional. Menarik melihat sosok Louis yang tidak percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Sementara istrinya, Rachel, meyakini sebaliknya. Penulis naskah Jeff Buhler, Matt Greenberg memperkuat latar belakang mengapa Rachel berpikir demikian. Kilasan masa lalu Rachel cukup membuat greget di samping konflik utama.

Dari segi alur, Pet Sematary terbilang pelan. Sutradara Kevin Kolsch, Dennis Widmyer juga tak mengobral adegan jumpscare. Namun dua poin tersebut tidak membuat Pet Sematary menjadi membosankan. Semua adegan digarap dengan mendetail dan menarik, sehingga Anda penasaran untuk menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Selain itu, chemistry keluarga Creed terasa begitu nyata, menjadi salah satu nilai plus film berdurasi 103 menit ini. Acung jempol buat performa Jete Laurence, gadis cilik 11 tahun yang menjadi scene stealer lewat eskalasi akting yang memukau.

Pet Sematary boleh tampil serius dengan membahas kematian, trauma dan penyesalan yang menimpa karakter-karakternya. Namun ia memilih penyelesaian yang tidak sesakral penggambaran kematian sepanjang film.

(ray / ray)

Penulis : Panditio Rayendra
Editor : Panditio Rayendra