[RESENSI FILM] Hotel Mumbai: Teroris Tak Punya Agama

Wayan Diananto | 19 April 2019 | 13:00 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Kecintaan berlebih terhadap agama kerap berujung pada memandang rendah umat lain. Jika ini dipelihara, bukan tidak mungkin, si fanatik memandang nyawa umat beragama lain, bahkan yang berbeda haluan dengannya, tidak berharga.

Berkali kita mendengar teroris dan pelaku bom bunuh diri beraksi di ruang publik hingga rumah ibadah. Berkali pula kita diingatkan untuk tak menuding agama tertentu karena sejatinya, teroris tak punya agama.

Hotel Mumbai diangkat dari kisah nyata tragedi di The Taj Mahal Palace Hotel, Mumbai, India, pada November 2008. Cerita dimulai ketika Arjun (Dev) bekerja sebagai staf divisi makanan dan minuman di bawah perintah juru masak Hemant Oberoi (Anupam). Hari itu, hotel ini kedatangan sejumlah tamu penting antara lain pasangan suami istri Zahra (Nazanin) dan David (Armie) bersama bayi serta suster mereka, Sally (Tilda).

Ketegangan terjadi jelang malam, saat massa memohon agar boleh masuk ke hotel karena di sejumlah ruang publik, teroris menembaki warga. Tak dinyana, 6 teroris menyusup di antara kerumuman massa itu. Mereka kemudian menembaki staf dan tamu. Para staf yang selamat dipaksa membuka akses ke sejumlah lantai. Selama beraksi, para teroris berkomunikasi lewat ponsel dengan The Bull (Pawan Singh) yang menjanjikan uang bagi keluarga pelaku, bahkan surga. 

Nama Anthony Maras belum familier di kuping kita. Sebelum melahirkan Hotel Mumbai, ia memproduksi 3 film pendek yakni Azadi, Spike Up, dan The Palace. Meski demikian, kentara sekali ia menggunakan hati saat mengolah Hotel Mumbai. Anthony yang juga menulis naskah menyuarakan pesan: tak ada agama yang membenarkan kekerasan. Lalu dibangunlah tokoh-tokoh dengan latar belakang berbeda. Arjun dari kaum Sikh selalu bersurban saat keluar rumah. 

Saat serangan teror terjadi, seorang tamu perempuan yang ndilalah bule, trauma berat. Ia ketakutan melihat Arjun yang berjenggot dan memakai serban. “Ibu, ini foto keluarga saya dan ini foto anak saya,” beri tahu Arjun seraya mendekati tamu. “Serban ini simbol kehormatan dan keberanian (dalam keyakinan saya). Namun selama Ibu berada di hotel ini, Ibu tamu saya. Jika Ibu keberatan saya akan melepas serban ini.” Tersentuh oleh komitmen Arjun, sang tamu menahan tangan Arjun yang hendak melepas serban. Adegan ini, bagi kami, momen emas Hotel Mumbai. 

Di adegan ini, kemanusiaan dan toleransi diletakkan di tempat tertinggi. Disajikan dengan ritme cepat dan alur linear, Anthony tak mau membuat penonton pusing. Yang dibutuhkan film ini, adegan lugas dan akting meyakinkan. Dev, Anupam, dan Nazanin tampil dengan emosi konsisten. Hotel Mumbai memadukan ketegangan, drama, dan pesan damai yang relevan. Cocok untuk sebagian masyarakat kita yang belakangan mabuk agama.

Pemain    : Dev Patel, Nazanin Boniadi, Armie Hammer, Tilda Cobham-Gervey, Anupam Kher
Produser    : Basil Iwanyk, Gary Hamilton, Andrew Ogilvie, Jomon Thomas, Mike Gabrawy
Sutradara    : Anthony Maras
Penulis        : John Collee, Anthony Maras
Produksi    : Thunder Road Pictues, Arclight Films
Durasi        : 2 jam, 3 menit

(wyn / gur)

Penulis : Wayan Diananto
Editor : Wayan Diananto