Shaheer Sheikh Mengenang Film Kolosal Indonesia Pertamanya di Indonesia Maipa Deapati Datu Museng, Masih Ingat?

Vallesca Souisa | 12 Januari 2022 | 12:30 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Shaheer Sheikh. Mungkin bisa dibilang, dia adalah aktor pertama India yang paling sukses berkarier di Indonesia. Dari tahun 2014, sejak kedatangannya untuk serial Mahabharata, hingga tahun 2018, ketika dia sudah menyelami beberapa judul sinetron Indonesia dan diam-diam mengantongi dua judul film layar lebar.

Ya, dua judul film layar lebar Indonesia dibintanginya. Pertama adalah film komedi romantis, Turis Romantis bersama akris Kirana Larasati, dan yang kedua ini sesuatu banget, film kolosal bersejarah dari tanah Indonesia, Maipa Deapati Datu Museng. Menjadi film kolosal pertamanya di Indonesia. Masih ingatkah kamu, akan kisah cinta tragis Maipa Deapati Datu Museng?

Tak terasa, ya, itu sudah empat tahun lalu. Dan hari ini, Shaheer Sheikh memperingati 4 tahun film Maipa Deapati Datu Museng. Di Instagramnya, Shaheer kembali mengunnggal trailer film kolosal ini dan memberikan apresiasi pada semua kru yang pernah terlibat. “Syuting film ini adalah pengalaman yang menakjubkan. Sebuah kenangan yang indah. Terima kasih ya, @rere_art2tonic, @fildzah_burhan, dan semua kru dari Maipa Deapati Datu Museng, terima kasih juga untuk para Birdies (sebuatn Shaheer untuk para penggemarnya), untuk semua perhatian dan cintamu,” demikian ungkap Shaheer pada keterangan yang ditulisnya di bawah unggahan tersebut.

Film ini memiliki keunikan tersendiri. Bertutur tentang kisah seorang pejuang Makassar tapi diperankan oleh aktor India. Shaheer Sheikh masuk ke pedalaman-pedalaman di daerah Makassar, untuk menyelami kehidupan Datu Museng, hingga mempelajari bahasa Makassar. Shaheer tidak hanya berbahasa Indonesia di sini, tapi juga sesekali menggunakan bahasa daerah.

Tetapi yang tersulit dari memerankan tokoh nyata di masa lampau ini adalah bagaimana memahami rasanya membunuh istri yang dicintai karena situasi yang mendesak?

“Dalam menggali karakter nyata ini, selain bahasa, yang penting adalah bagaimana perasaan dia (Datu Museng) harus membunuh istri yang sangat dicintainya? Apa yang akan dia lakukan? Sekalipun dia seorang pejuang, sekalipun dia sangat kuat, dia punya hati, kan. Ini karakter yang sangat luar biasa. Dia pejuang, lelaki yang setia, saya berusaha keras merasakan apa yang dia rasakan,” ungkap Shaheer saat diwawancarai beberapa waktu lalu.

Kisah cinta mengharukan Datu Museng dan Maipa Deapati berangkat dari cerita rakyat di Makassar yang selalu dituturkan oleh orang-orang tua kepada anak cucu mereka agar dapat memetik hikmah dari pendidikan, perjuangan dan kesetiaan. Begitu populernya kisah cinta Datu Museng – putra bangsawan kerajaan Gowa dan Maipa Deapati Putri bangsawan Kerajaan Sumbawa ini, hingga nama dari kedua tokoh legendaris tersebut diabadikan menjadi nama jalan di Kota Makassar.

Dalam cerita rakyat Makassar dikisahkan, Datu Museng bertemu dan jatuh hati pada Maipa Daepati di sebuah rumah pengajian, Bale Mampewa. Namun cinta mereka penuh hambatan, salah satunya Maipa Daepati telah ditunangkan dengan Pangeran dari Selaparang Lombok, bernama Mangalasa.

Mengetahui cintanya terhalang, Datu Museng berusaha mengalihkan perhatian dengan berguru ke tanah suci Mekkah. Terpisah jarak, ternyata tak membuat cinta kedua insan ini memudar. Sebaliknya, ikatan batin di antara mereka kian kuat. Kembali ke Makassar, Datu Museng mendapati Maipa Daepati dalam keadan sakit. Ia menyembuhkannya dengan ilmu yang ia dapatkan di Mekkah. Kedekatan ini membuat Pangeran Mangalasa cemburu. Pangeran pun bersekutu dengan Belanda untuk membunuh Datu Museng. Namun Datu yang sakti tak bisa mereka bunuh.

Datu Museng dan Maipa Daepati malah mendapat restu menikah dari Sultan Sumbawa. Mereka dinikahkan dan Datu Museng diberi jabatan sebagai panglima perang. Saat itu Makassar kacau karena ulah Belanda, hingga dibutuhkan seorang pejuang tangguh. Di tengah peperangan, hadir ujian lain, salah satu Kapten Belanda itu jatuh cinta pada Maipa Daepati dan berusaha merebutnya. Akibatnya serangan bertubi-tubi dari Belanda pun dilancarkan di tanah Makassar. Namun bagi Maipa Daepati, cintanya hanya untuk Datu Museng. Dari pada Maipa Daepati harus menyerahkan diri pada Belanda, ia lebih memilih mati. Kepada suaminya sendiri, ia minta dibunuh.

 

Penulis : Vallesca Souisa
Editor : Vallesca Souisa