"Wewe": Visual Wewenya Kebarat-baratan

Wayan Diananto | 26 April 2015 | 10:07 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - SETELAH tuyul diangkat ke layar lebar, giliran wewe gombel. Sosok ini akrab di telinga penulis yang lahir dan tumbuh di Solo dan Semarang. 

Wewe tak kalah mengerikan ketimbang kuntilanak. Dulu, jika jam 17.30 belum mandi lalu belajar, dan malah keluyuran, orang tua berkata, “Iki wis surup, aja mblayang! Mengko didelikne setan (Ini sudah magrib, jangan keluyuran. Nanti kamu diculik setan)!”.

Setan yang dimaksud perempuan berambut panjang berombak, dengan muka keriput. Kuku tangan panjang layaknya cakar. Payudara menggelambir, tak lagi kencang. Dia mengambil anak-anak yang dibiarkan orang tuanya bermain jelang malam. Hantu yang kata orang tua bernama wewe ini suka menyembunyikan anak-anak di bawah pohon. Gombel sendiri punya sejarah. 

Gombel adalah nama bukit di Semarang, Jawa Tengah. Konon, bukit ini wingit (angker-red.) setelah Belanda membantai pribumi membabi buta di sana. Cerita wewe itu menyebar dari Semarang. Menjadi materi menakutkan bagi anak-anak. Mitos wewe yang akrab di telinga semenjak kecil sebagian besar terekam di film ini. Beberapa poin benar. Namun visual wewe tidak sepenuhnya demikian. 

Wewe dalam film mengenakan gaun panjang dan (maaf) payudaranya masih singset. Mengingatkan kami pada setan ibu judes di Insidious: Chapter 2.

Rapi Film tampaknya punya pertimbangan sendiri untuk mengamankan visual setan demi kepentingan sisi etika. Maklum, belakangan ini masyarakat kita sangat fokus mengurusi moral apalah-apalah.

Di sisi lain, film ini mencerminkan penggarapan matang dari sisi teknis. Pengambilan gambar lebih bergaya. Efek visual untuk membuat perubahan nuansa rumah sangat lembut dan memikat.

Untuk membangun suasana mencekam, sutradaranya, Rizal Mantovani menggaet lagi dengan Andi Rianto dan Magenta Orchestra. 

Paduan tiga elemen teknis ini dalam banyak fase menciptakan sensasi mengejutkan. Beberapa kali kita akan dibuat menjerit atau setidaknya kaget.

Sayang, teknis ciamik kurang diimbangi skenario yang padat berisi. Kisahnya, simpel. Jarot (Agus Kuncoro) dan Irma (Inong Nindya Ayu) dan dua anak mereka pindah ke rumah baru. Irma marah besar karena tidak diajak berdiskusi soal pemilihan rumah.

Sebenarnya, Irma kurang setuju dengan rumah baru mereka. Pertengkaran demi pertengkaran kerap terdengar. Si sulung Luna (Nabila JKT48) tumbuh menjadi pribadi tertutup.

Sementara si bungsu Aruna (Khadijah Banderas) belakangan mengeluh ada nenek yang datang kala malam untuk membelai rambutnya.

Jarot menganggap ucapan Aruna celotehan yang tidak jelas juntrungnya. 

Sampai akhirnya, Aruna menghilang! Pertengkaran (drama) dan nenek yang datang saat malam tiba (horor) menyiratkan dua fondasi dalam naskah Wewe.

Pada awal hingga pertengahan film, alur bergerak dinamis. Jelang klimaks, film ini tampak bingung memilah mana yang mesti ditonjolkan. Akibatnya, kami merasa alurnya terasa terseok.

(wyn/gur)

 

Penulis : Wayan Diananto
Editor : Wayan Diananto