Jenderal Soedirman : Sepenggal Kisah Perjuangan Jenderal Besar

Wayan Diananto | 30 Agustus 2015 | 07:41 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Biografi menemukan banyak cara dalam bercerita. Yang beraliran klasik, memulai tuturannya dari sejak tokoh utama lahir. Jika durasi tidak bisa diajak kompromi, tuturan tadi sampai pada masa kejayaan sang tokoh lalu di ujung durasi gambar yang semula bergerak berubah menjadi teks pemberitahuan bagaimana akhir hidup yang dibiografikan. Ada pula yang memilih momen terpenting dalam hidup seorang tokoh untuk diangkat ke layar lebar. Dengan kata lain, mengetengahkan sepenggal kisah. Jenderal Soedirman (JS) memilih cara kedua. Hasilnya?

Karya Viva menangkap momen setelah Indonesia merdeka, menjelang agresi militer Belanda kedua dan ketika agresi berlangsung. Momen di mana Yogyakarta, daerah istimewa memegang peran penting. Suasana Jakarta tengah genting. Pemerintahan yang baru seumur jagung menjadi darurat lalu dipindahkan ke Yogyakarta. Soekarno (Baim) dan Hatta (Nugie) tak henti memperjuangkan kedaulatan Indonesia lewat jalur diplomasi.

Tatkala tentara-tentara Belanda mencoba merenggut kemerdekaan, para petinggi negara bersatu dalam perbedaan metode perjuangan. Soedirman (Adipati) yang masih sakit memilih terjun ke medan pertempuran. Ia rela berpisah dari istrinya, Alfiah (Annisa). Soedirman bersama orang kepercayaannya, Tjokropanolo alias Nolly mengobarkan semangat perlawanan. Satu orang sakit ini menjadi konseptor perang gerilya. Satu orang sakit ini membuat petinggi militer Belanda hilang akal, hilang sabar.

Viva Westi memformat JS sebagai sepenggal kisah perjuangan seorang jenderal besar. Putusan ini patut diapresiasi. Dengan begitu, Viva menyalurkan energi untuk membuat sebuah film dengan alur yang intens, fokus, dan memungkinkan penonton lebih intim mengenal gaya kepemimpinan Soedirman serta perwatakannya yang keras, berpegang pada keyakinan. Sang Jenderal dalam polesan Viva, identik dengan pengorbanan dan semangat yang tidak pernah mati.

Adipati memperlihatkan akting yang menurut kami, jauh lebih baik ketimbang penampilannya dalam Sang Kiai beberapa tahun lalu. Secara fisik dan perangai, Adipati mempresentasikan bagaimana Soedirman seharusnya. Ia tampil konsisten, sekonsisten Viva menjaga penceritaan.

Gangguan justru datang dari karakter-karakter di sekitar Soedirman. Karsani misalnya, dalam banyak adegan ia tampak dominan dan terlalu menonjol. Ide mencuri dokar, penghinaannya terhadap mobil tentara Belanda yang tengah melintas, hingga adegan ia terkepung antek-antek kompeni justru terlihat lebih heroik daripada Soedirman sendiri. Terlalu menyita perhatian. Dalam laga maupun lawak yang dikemas teaterikal. Sementara Sang Jenderal sekadar menjadi konseptor perang. Tidak lebih.

Gangguan lainnya datang dari posisi Soedirman di antara para pejuang dan elit politik lainnya. Ia dekat dengan Soekarno. Namun, perbedaan sudut pandang dalam mempertahankan pemerintahan yang kala itu dalam kondisi darurat, tak terhindarkan. Soekarno memintanya kembali ke Yogyarakarta. Soedirman bersikeras melanjutkan perang. Hanya surat dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX-lah yang mampu meluluhkan pendirian Soedirman. Sayangnya, kita sama sekali tak melihat sosok Sultan di sini.

Padahal posisi raja Yogyakarta di era 40-an menurut kami penting. Lebih penting dari Karsani, misalnya. JS sejak awal memang tidak menempatkan diri sebagai biografi “utuh”. Namun, sepenggal kisah yang ditampilkan pun rasanya, tidak untuh sepenggal.

Padahal, elemen-elemen teknis sudah sangat mendukung. Efek visualnya tergarap lumayan rapi. Adegan aksi dan cara film ini menjaga atensi audiens layak dipuji. Begitu pun tata artistik, kostum, dan suara. Mungkin ketidakutuhan sepenggal cerita dari Viva Westy memberi kesempatan bagi sienas lain untuk memfilmkan Soedirman di kelak kemudian hari.

 

Main Tebak-tebakan Yuk! Tulisan apa yang tertera di atas pintu rumah, tempat persembunyian Jenderal Soedirman?

A. Kalau memang ini tekadmu, jadikan ini perang gerilya semesta.

B. Tangan Tuhan terbuka bagai langit yang mendengarkan doa kita.

C. Tapi kita punya niat yang mulia, niat yang akan memenangkan peperangan ini.

D. Untuk apa Tuhan menciptakan hati jika hanya untuk dipatahkan?

 

Pemain:     Adipati, Ibnu Jamil, Mathias Muchus, Baim Wong, Nugie, Annisa Hertami, Gogot S.

Produser:  Handi Ilfat, Sekar Ayu Asmara, M. Nolizam, Ratna Syahnakri

Sutradara: Viva Westi

Penulis:     TB. Deddy Safiudin

Produksi:   Padma Pictures, Markas Besar TNI AD, Yayasan Kartika Eka Paksi

Durasi:       126 menit

(wyn/ray)

Penulis : Wayan Diananto
Editor : Wayan Diananto