Anak Suka Jajan dan Ngemil, Waspada Diabetes

TEMPO | 7 April 2019 | 10:30 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Salah satu cara menghindari obesitas pada anak  dengan mengurangi konsumsi karbohidrat olahan. Demikian saran dokter spesialis anak dari RSCM Jakarta, dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K).

"Terapi obesitas pada usia remaja punya tingkat keberhasilan 10-20 persen saja. Kalau enggak mau keto (diet rendah karbohidrat), kurangi konsumsi karbohidrat olahan. Jajanan yang ada di minimarket, jika langsung dimakan, akan langsung meningkatkan kadar gula. Indeks glikemik akan langsung tinggi," ujar Piprim.

Karbohidrat olahan seperti yang banyak ditemui di toko ritel, kata Piprim, justru memicu craving atau ingin mengosumsi sesuatu terus menerus dan tidak mengenyangkan. "Berbeda dengan makanan alami yang langsung diciptakan Allah, misalnya telur, daging, ikan dan bahan pangan lain berikut lemaknya itu mengenyangkan," katanya.

Saat mengonsumsi karbohidrat olahan pabrik, lanjut Piprim, orang itu mampu menghabiskan makanan itu dalam jumlah banyak seorang diri. "Itu namanya sugar craving. Siklusnya, insulin naik dulu, sedangkan gulanya turun. Begitu gula turun, dia lapar lagi dan mengambil (makanan) lagi," ujar Piprim.

Para ahli kesehatan menyarankan semua orang mengonsumsi sayuran dan buah meskipun tidak semua buah aman dikonsumsi bagi penderita diabetes, salah satunya pisang. Piprim mengatakan kadar gula dalam pisang tinggi sehingga justru berbahaya dikonsumsi berlebihan, apalagi oleh penderita diabetes.

Satu potong pisang besar bisa mengandung 17 gram atau 4,25 sendok teh gula. Sementara, satu cangkir buah anggur mengandung 15 gram atau 3,75 gram sendok teh gula. "Buah mesti dicari yang nutrisi tinggi tapi enggak langsung diubah oleh tubuh menjadi gula. Misalnya alpukat, stroberi, atau buah lain keluarga beri, bengkuang, mentimun, dan buah berserat tinggi," kata Piprim.

TEMPO.CO

Penulis : TEMPO
Editor: TEMPO
Berita Terkait