5 Cara Sederhana Mengatasi Stres untuk Generasi Milenial

Yuriantin | 13 Agustus 2019 | 01:00 WIB

TABLOIDBINTANG.COM - Menurut Asosiasi Psikiater AS (APA), generasi milenial menjadi generasi paling banyak mengalami kecemasan dalam satu dekade terakhir, diikuti generasi baby boomer dan generasi Z. APA juga menyebut, 86 persen orang milenial mengalami krisis perempat abad dan tidak puas dengan kehidupan. Apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya?

Dr. Deepika Chopra, psikolog asal Los Angeles, AS, yang konsentrasinya ada pada peningkatan optimisme, menganalisis keterkaitan antara penggunaan medsos yang berlebihan dan kecemasan yang dialami generasi milenial. “Masyarakat modern kita secara terus-menerus menggeser ke kiri dan kanan terlalu banyak halaman (internet) di ponsel, sehingga pikiran mereka terpecah-pecah di antara berbagai macam situs web yang disentuh seharian. Kita juga secara impulsif mengecek banyak akun media sosial. Jari-jari kita bergerak sangat cepat ketika mengetik kata-kata dan emoji (di aplikasi pengiriman pesan). Terlalu cepat sehingga kita bahkan tidak menyadari apa maksudnya. Tidak heran generasi milenial, yang notabene paling menguasai teknologi, justru juga menjadi generasi paling cemas sepanjang sejarah,” urai Chopra.

Uraian di atas dibenarkan Poppy Jamie, pendiri Happy Not Perfect, aplikasi yang memandu penggunanya untuk keluar dari kecemasan dan menemukan kebahagiaan. Sebelum membuat aplikasi ini, Jamie termasuk bagian dari generasi milenial yang menderita stres dan kecemasan tingkat tinggi. Dengan bantuan sang ibu yang seorang psikiater, ia berhasil keluar dari gangguan kesehatan mental bahkan masuk ke dalam daftar 30 Pengusaha Sukses di Bawah 30 tahun versi Forbes 2017.

Untuk membantu generasi milenial yang senasib, Jamie yang saat ini menjabat anggota termuda Dewan Penasihat Rumah Sakit Neuropsikiatri Resnick di Universitas California Los Angeles, AS, memberikan 5 cara sederhana bagi generasi milenial untuk mencegah stres dan rasa cemas berlebih.

1. Praktikkan pernapasan perut

Cara paling sederhana, lakukan pernapasan perut setidaknya 1 menit setiap hari. Teknik pernapasan perut ini menstimulasi saraf vagus, yang mengubah rasa tegang menjadi santai dan relaks. Kabar baiknya, pernapasan perut bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Jamie bahkan mengatakan, dia kerap mempraktikkannya di tengah rapat yang alot. Teknik ini membantunya berpikir jernih dan membuat keputusan tepat.

2. Tuangkan isi pikiran ke dalam tulisan

Ketika kita stres dan cemas, bagian emosional dalam pikiran biasanya bekerja sangat aktif. Pikiran liar kita pasti melontarkan kata-kata kasar bahkan terkadang kita tidak bisa mengendalikannya. Alih-alih menuangkan isi pikiran ke dalam bentuk ucapan kemudian menyesalinya, Jamie menyarankan agar Anda menuangkan ke dalam bentuk tulisan. “Mencatatkan apa yang ada di pikiran Anda akan membuat korteks prafrontal (otak bagian depan) aktif dan menenangkan bagian amigdala (pusat emosi pada otak),” bilang Jamie. Tentu saja, catatan ini harus dibuat secara pribadi, bukan di akun medsos.

3. Buat catatan syukur

Catat hal-hal sederhana yang patut disyukuri. Sebab, “Mudah sekali terjebak pada pemikiran, ‘Saya lelah, tidak berguna, takut, khawatir, stres.’ Dan menulis catatan syukur akan membantu mengubah cara pandang Anda tentang kehidupan. Lagi pula penelitian mengatakan, bersyukur akan memicu produksi hormon kebahagiaan. Juga membantu Anda melatih dan mengembangkan pola pikir positif.”

4. Pikirkan orang lain

Ketika kita cemas dan hampir meledak, otak kita akan terus fokus ke persoalan-persoalan pribadi dan tidak peduli dengan masalah orang lain. Cobalah pikirkan, apakah hari ini saya sudah membuat orang lain senang? Apa yang bisa saya lakukan untuk menolong orang lain? Perspektif tentang masalah bisa berubah setelah melihat kehidupan orang lain. Ketika Anda merasa kehidupan Anda sangat buruk, bisa jadi ada orang lain yang mengalami jauh lebih buruk.

5. Olahraga

Tubuh Anda butuh bergerak ketika Anda merasa gelisah. “Olahraga atau bahkan berjalan santai terutama pagi hari sama pentingnya dengan jam istirahat kantor. Hal itu menstimulasi endorfin dan hormon yang memberi perasaan tenang,” pungkas Jamie.

(yuri)

Penulis : Yuriantin
Editor: Yuriantin
Berita Terkait