Adipura, Dari Peran Atagonis Menjadi Ustadz

Endang Jamhari Sabtu, 25 April 2015 05:40:59
Adipura

TABLOIDBINTANG.COM - PERUBAHAN besar terjadi pada aktor Adipura (46). Kini dia menjadi penceramah, yang hampir setiap hari mendatangi lokasi pengajian yang dia pimpin. Uniknya, meski sering memberi tausiah, Adipura tidak mau dipanggil ustadz. Dia lebih nyaman disebut motivator agama.

Di lokasi syuting Tukang Bubur Naik Haji (TBNH) pekan lalu pemain sinetron Adipura dipuji artis senior Nani Wijaya.

“Adipura itu kini sudah berubah ke arah yang jauh lebih baik. Di lokasi syuting, saat break syuting ia selalu belajar agama dan kadang zikir,” kata Nani Wijaya.

Pemeran Hari Sukardi di TBNH itu tersenyum dengan pujian Nani Wijaya.  “Mak berlebihan memuji saya,” ucap Adipura.

Sejatinya, pujian yang dilontarkan Nani sudah menggambarkan perubahan besar yang dialami Adipura. Adipura menjelma menjadi seorang ustadz yang hampir setiap hari memberi tausiah kepada jemaahnya.

Pengajian yang dipimpinnya tidak memiliki tempat yang tetap alias berpindah-pindah. Namun, lokasi pengajian yang dipimpin Adipura lebih banyak di wilayah Jabodetabek. 

“Saya mohon, jangan panggil saya Ustadz. Panggil saya seperti dulu saja, tanpa embel-embel Ustadz. Saya ini motivator kehidupan yang mencoba mencari setiap permasalahan berdasarkan Alquran dan sunah,” urai Adipura, yang Bintang kenal baik sejak mengawali karier di dunia hiburan.

Dia menyengajakan pengajian dipimpinnya dari rumah jemaah satu ke rumah jemaah lainnya agar syiar yang dilakukannya lebih efektif. 

“Lebih baik jemput bola daripada menunggu bola. Selain itu membuat saya lebih dekat dengan mereka dan tahu persoalan agama yang ada di masyarakat,” ucap pria yang merayakan ulang tahun setiap 24 Februari.

(ej/gur)

Penulis Endang Jamhari
Editor Tubagus Guritno
YANG INI LEBIH HEBOH
loading...
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.