Jumpa Lagi dengan Dicky Wahyudi, Salah Satu Ikon Sinetron Generasi 1990-an

Wayan Diananto Minggu, 21 Oktober 2018 10:00:02
Jumpa Lagi dengan Dicky Wahyudi, Salah Satu Ikon Sinetron Generasi 1990-an (Markuat / tabloidbintang.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Saat menyaksikan film Bisikan Iblis (Hanny R. Saputra, 2018), sejumlah penonton serasa memasuki ruang nostalgia. Khususnya, ketika karakter Frans muncul.  

Frans diperankan dengan apik oleh Dicky Wahyudi (49), aktor papan atas di era 1990-an. Dicky merupakan leading actor sejumlah sinetron berating tinggi seperti Abad 21 dan Doaku Harapanku.

Generasi 1990-an tentu ingat lagu tema sinetron Abad 21, “Kau dan Aku” yang dinyanyikan Krisdayanti. Di akhir lagu, ia berteriak, “Benooo!” Si Beno yang ganteng diperankan Dicky. Saat berbincang bersama Bintang, aktor kelahiran 23 September ini tertawa terbahak-bahak. 

“Ya, saya beberapa kali beradu akting dengan Krisdayanti. Dia lawan main saya di Abad 21 dan Doaku Harapanku. Keduanya memang fenomenal. Apalagi, di sinetron Abad 21 ada pasangan Widyawati dan almarhum Sophan Sophian,” kenangnya di Jakarta Selatan, pekan lalu.

Jumpa Lagi dengan Dicky Wahyudi, Salah Satu Ikon Sinetron Generasi 1990-an (Markuat / tabloidbintang.com)
Jumpa Lagi dengan Dicky Wahyudi, Salah Satu Ikon Sinetron Generasi 1990-an (Markuat / tabloidbintang.com)

Dicky mengingat, hijrah ke sinetron karena kondisi perfilman saat itu mulai lesu. Meski demikian, ia sempat membintangi sejumlah film laris seperti Si Manis Jembatan Ancol, Ranjang Yang Ternoda, dan Lembaran Biru.

Dua judul terakhir dibintangi Dicky dan Inneke Koesherawati. Ketika sinetron mingguan digantikan dengan sinetron harian, Dicky berupaya mempertahankan eksistensi. 

“Saat sinetron mingguan menjadi harian, saya beradaptasi dan membintangi beberapa judul. Yang paling panjang episodenya yakni, Nada Cinta. Saat itu formasinya lengkap ada Luna Maya, Dewi Sandra, dan Mikha Tambayong,” Dicky berbagi cerita.

Diakuinya, sinetron harian, apalagi yang berating tinggi, menjanjikan kesejahteraan finansial bagi para pemain. Istilahnya, gaji diterima setiap hari per episode. Bayangkan jika sebuah sinetron tayang dua atau tiga episode per hari, honor seolah mengalir tanpa henti. 

Di sisi lain, Dicky menyayangkan kualitas cerita. “Di era 1990-an, setiap proyek sinetron memiliki proyeksi jumlah episode sehingga cerita dirancang untuk berakhir di episode tertentu. Pernah saya membintangi sinetron untuk 52 episode. Ya sudah, cerita solid dan berakhir di episode 52. Sekarang, alur cerita bisa berubah dalam hitungan hari. Mayoritas skenario sinetron zaman sekarang membuat saya enggak sreg,” akunya.

(wyn / gur)

Penulis Wayan Diananto
Editor Tubagus Guritno
Install App Bion
Akses berita dan gosip lebih mudah
Download Aplikasi Android
Google playstore
loading...
YANG INI LEBIH HEBOH
KOMENTAR
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.