TABLOIDBINTANG.COM -  Zaha Indonesia memiliki banyak peminat. Selain nyaman digunakan dan sopan, Zaha memiliki ciri pada bentuknya yang longgar namun tetap modis dikenakan.

“Kebanyakan wanita Muslim Indonesia lebih menyukai pakaian yang tidak terlalu ketat. Namun, ada yang berpendapat bahwa pakaian longgar tidaklah keren. Karena itu, saya membuat pakaian yang sopan tetapi tetap modis ketika dikenakan,” terang Retno Dewi Savitri, sang pendiri dan pemilik.

Ciri khas lain dari Zaha, terlihat kaku dan berbentuk tegas, tidak seperti kebanyakan busana wanita yang terlihat ‘jatuh’ atau flowing ketika dikenakan.

Baca juga

Vitri beralasan bahwa dirinya kurang menyukai pakaian yang menggunakan bahan-bahan yang jatuh karena tidak sesuai dengan karakternya yang sedikit tomboi.

Retno Dewi Savitri, Arsitek Pebisnis Busana Kini Beromzet 300 Juta Per Bulan (Bambang / tabloidbintang.com)
zoom

“Dulu sangat sulit menemukan pakaian yang tepat dengan karakter saya. Akhirnya saya membuat pakaian yang saya desain sendiri lalu dijahitkan oleh penjahit. Ya, sampai sekarang (Zaha Indonesia) pun begitu. Saya mendesain pakaian lalu tim yang membuatnya karena saya tidak bisa menjahit. Untungnya saya punya tim yang sudah mengerti kemauan saya,” tukas Vitri

Kini, Zaha Indonesia sudah dikenal luas. Tidak hanya dipasarkan di situs web dan Instagram sendiri, tapi juga didagangkan di situs fashion muslim pertama Hijup. Alhasil, ada sekitar 1.500 busana yang dipasarkan tiap bulan dengan omzet 250 juta hingga 300 juta rupiah. Kini Vitri membangun sebuah workshop dengan mempekerjakan 15 karyawan di bagian tim produksi. 

 

(ages / gur)