TABLOIDBINTANG.COM -  Ayah saya si penyanyi lawas era 80an, biar sudah berusia 65 tahun, berstatus duda sejak 2014, dan akhir-akhir ini sakit-sakitan, ternyata masih memiliki penggemar wanita cukup fanatik.

Ada seorang wanita berusia 50an yang gigih mengejar, sejak ia berstatus duda. 

Wanita ini, sebut saja namanya Mawar kian agresif. Membuat saya yang muda merasa kalah 1000 langkah dalam urusan lelaki.

Baca juga

Mawar bisa datang ke rumah seminggu 3 kali. Kalau tidak pagi-pagi sekali, dia datang malam hari. Dia bisa duduk di dekat penyanyi lawas ini berjam-jam.

Tanpa diminta, dia memanggil si penyanyi dengan kata “Pa”. Mawar juga mengungkapkan perasaannya. Ditolak baik-baik, tak membuat Mawar mundur. Mawar terus datang ke rumah dengan manuver-manuvernya. Membuat sang biduan stres. 

Suatu hari terdengar teriakan penyanyi lawas ini dari dalam kamar. Rupanya, Mawar memaksa  masuk ke kamar si penyanyi lawas.

Penyanyi lawas ini adalah lelaki baik-baik bertata krama. Dia merasa tak nyaman dan tertekan didekati wanita yang dulu pernah mengidolakan dan kini terobsesi padanya. Terlebih kini menerobos area pribadi.

“Ngapain masuk-masuk kamar saya?”

“Saya kan mau pamit, 'Pa',” kata Mawar. 

“Pamit ya, pamit saja, kenapa harus maksa masuk ke kamar?” tanya penyanyi lawas.

Mawar tetap nekat melangkahkan kaki ke dalam kamar. Selanjutnya amarah penyanyi lawas menjadi. Apakah selepas kejadian ini Mawar berhenti datang? Tidak juga, lho. 

“Dia mengagumi saya sejak SMP. Setiap kita manggung dia pasti ada dan suka menghampiri ke belakang panggung. Memang kita berteman. Kok, sekarang jadinya mau paksa saya harus suka sama dia juga. Gimana sih?” penyanyi lawas ini menggerutu. 

Kata saya kepada penyanyi lawas ini, “Makanya, jangan kasih kata-kata atau sikap yang terlalu  manis. Perempuan suka ge-er sendiri.”

“Saya biasa-biasa saja. Cuma bersikap baik. Orang senang mau berteman dengan kita, ya kita harus hargai,” timpal penyanyi lawas. Intinya, sebagai penyanyi, dia harus selalu bersikap baik dan manis di depan orang dan teman-temannya. Betul. Tetapi terkadang hati wanita menginterpretasikan berbeda. Berteman dengan seorang penyanyi, untuk beberapa wanita bisa membuat hati berbunga-bunga. Bukan tak mungkin, lama-lama bikin  baper (bawa perasaan).

Teman saya yang mendengar cerita ini  menyeletuk, “Gimana kamu dengan artis kece itu, ya? Sudah dipeluk, dibelai, digenggam. Kamu enggak baper?” Artis yang dimaksud teman saya ini adalah seorang aktor ganteng, lembut dan baik hati. Di kolom ini, saya menyebutnya Mario. 

Mario bukan aktor papan atas, juga bukan aktor papan penggilas. Tetapi dia memiliki banyak penggemar. Kami bisa berteman, justru karena sebuah kesalahan yang saya lakukan terkait pemberitaan yang saya tulis tentang dirinya. 

“Kesalahan” membawa kami saling mengenal satu sama lain. Di setiap acara, di setiap jumpa pers, dia menghampiri saya. Di acara-acara spesial, bila bertemu dia akan memeluk saya. Kadang ya, dia membelai wajah saya dan entah apa yang kami bicarakan. Percakapan-percakapan di whatsapp terbilang manis. Dan tahun ini dia menolong saya dalam pekerjaan. Pertolongan ini sangat berarti dan tak terlupakan. Dia dengan terbuka menawarkan bantuannya lagi jika saya membutuhkan.

“Kapanpun kamu membutuhkan saya, apapun yang kamu butuhkan, hubungi saya,” katanya. 

Ketika ditanya baper atau enggak? Saya menjawab, saya profesional. Saya bersikap baik padanya demikian dia pada saya, karena kami mempunyai hubungan saling menguntungkan di sini.

Lalu teman ini masih memancing, “Kenapa kamu enggak mengubah hubungan profesional itu ke personal?” Saya katakan saya tak punya cukup waktu untuk melakukannya. 

Tetapi gara-gara pertanyaan-pertanyaan ini, hati saya yang tangguh, tanpa disadari jadi tersihir oleh kehangatan Mario. Terlebih 2 minggu lalu, ketika saya kelelahan bolak-balik mengurus ayah yang sakit dan kerja. Saya menghubungi Mario, saya merasa membutuhkannya saat itu dan dia sekali lagi mengulurkan bantuannya.

Secara fisik dia tidak ada di dekat saya. Tapi dari lokasi syuting, dia menghibur saya lewat kata-kata yang manis dan menenangkan. Hari-hari selanjutnya, dia mendadak jadi begitu penting buat saya. Sering kali saya jadi suka senyum-senyum sendiri. Lalu mulai ada dorongan untuk menghubungi dia di luar kerjaan, di luar konteks yang seharusnya. 

Saya rasa, saya positif baper. Sebentar lagi bisa terpeleset jatuh cinta. Vallesca, kenapa kamu harus baper? Siapa tahu dia memang baik ke semua orang? Ingat si penyanyi lawas, ayahmu, yang baik ke semua orang. Dia itu artis, harus bersikap baik dan manis. Kata-kata ini saya lontarkan keras-keras ke dalam hati yang tengah melemah. 

Lalu saya melakukan pencarian fakta untuk mengusir baper.

Pertama, saya mencari tahu apa dia bersikap manis ke semua orang? Saya dapatkan, dia tidak bersikap manis ke semua orang, tapi kepada temannya, ya, dia sangat manis. Saya menemukan beberapa foto, di mana dia berpose  memeluk dan membelai pipi seorang penyanyi wanita beken sebut saja Ariana. Sama seperti dia suka membelai pipi saya. Selain Ariana, ada foto dengan pose demikian juga bersama aktris cantik dan beken lainnya, sebut saja Bella. Artinya untuk saya, enggak perlu baper. Dia biasa melakukannya. 

Kedua, saya mengecek apakah dia sering memberikan bantuan dan perhatian pada orang? Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, ternyata Mario memang suka menolong siapa saja, apalagi temannya. Baik, berarti saya enggak perlu ge-er dihibur melalui telepon oleh dia, di saat saya tengah lelah. 

Ketiga, saya mengukur frekuensi komunikasi. Apakah saya atau dia yang lebih banyak menghubungi? Kenyataannya, saya masih lebih banyak menghubungi dia ketimbang dia menghubungi saya. Artinya, chemistry saya dan dia tak lebih dari konteks pertemanan. 

Jadi ladies, kesimpulannya, enggak usah baper. Sebelum baper dan  melakukan pengejaran-pengejaran manja, lakukan pencarian fakta. Realistis dan netralisir hati. Perasaan bisa dikontrol oleh pikiran.

 

(Vallesca)

 

TAG