TABLOIDBINTANG.COM -  Berikut sinopsis Putri Titipan Tuhan, Selasa 20 Juni 2017.

Nadira menahan marah. Nadira bertanya kepada Bunda Hapsari tentang perasaannya ketika berada di rumah orang yang telah menghancurkan keluarganya. Bunda Hapsari kaget mendengar pernyataan Nadira. Bunda Hapsari meminta Nadira ikhlas terhadap musibah yang telah terjadi.

Nadira enggan melakukan hal itu. Nadira mengatakan jika ini semua terjadi karena Juno. Nadira bangun dan bergegas pergi ke kamar. Saat itu, Bunda Hapsari menyadari Lula sudah berdiri di depan kamar. Lula sepertinya mendengarkan obrolan Bunda Hapsari dan Nadira.

Baca juga

Lula bertanya kepada Bunda Hapsari soal omongan Nadira. Apa benar Lula menderita gangguan mental? Bunda Hapsari kaget sekaligus bingung. Pasalnya, Lula tetap tenang meski terlihat sedih. Lula kemudian menjelaskan bahwa ia mendengar isi pembicaraan Bunda Hapsari dan Nadira.

Bunda Hapsari coba menenangkan Lula. Bunda Hapsari membantah jika Lula gila. Menurut Bunda Hapsari, Lula menderita trauma berat sehingga emosinya kerap tidak terkontrol. Bunda Hapsari juga menuturkan bagaimana Lula bisa mengerjakan skripsi dan membintangi iklan sebagai tanda Lula tidak gila.

Saat sudah larut malam, Lula mengetuk pintu kamar Nadira hingga ia dan Reno terbangun. Bunda Hapsari beserta saudara-saudara lain juga ikut bangun. Lula sekali lagi bertanya apakah ia gila kepada Nadira. Pasalnya, Nadira merupakan seorang dokter.

Nadira terlihat bingung dan tidak bisa menjawab. Lula marah dan langsung kembali masuk kamar. Ketukan pintu Bunda Hapsari juga dibiarkan Lula. Sementara Nadira hanya diam dan khawatir.

Keesokan paginya, Lula menjelaskan bahwa ia berniat terjun ke dunia entertainment terutama advertising. Semua kaget terutama Nadira. Nadira langsung melihat Bunda Hapsari dan meminta bantuan. Bunda Hapsari mengingatkan Lula tentang janjinya untuk fokus menyelesaikan skripsi.

Lula memastikan akan sidang semester ini. Setelah itu, Lula tidak ingin ada yang mencegahnya melakukan pekerjaan apapun. Bunda Hapsari hanya bisa diam dan memikirkan Lula. Bunda Hapsari merasa Lula benar-benar marah.

 

(dira / gur)